Di era percepatan digital seperti sekarang, sektor teknologi memainkan peran penting dalam mendorong transformasi ekonomi di Indonesia. Hal ini juga tercermin dari jumlah perusahaan teknologi yang semakin banyak terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, tidak semua emiten ini menunjukkan kinerja keuangan yang mengesankan. Ada yang bertumbuh stabil, ada pula yang masih mencatatkan kerugian signifikan.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana saham-saham teknologi yang terdaftar di BEI menunjukkan performa keuangannya, mulai dari laba bersih, net margin, harga saham, hingga kapitalisasi pasar, berdasarkan data 2020–2024. Seluruh data mengacu pada informasi yang tersedia di IDNFinancials.
Sekilas Performa Emiten Teknologi di BEI
Beberapa performa:
Kapitalisasi Pasar Terbesar di Sektor Teknologi
Dari sekian banyak emiten di sektor ini, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menempati posisi teratas dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 810,47 triliun. Tidak hanya itu, kinerja keuangannya juga sangat impresif. Laba bersih DCII meningkat setiap tahun, dari Rp 183 miliar di 2020 menjadi Rp 796 miliar pada 2024. Net margin-nya pun terus naik dari 24,12% menjadi 43,94%.
Emiten dengan Kinerja Konsisten dan Positif
Beberapa emiten menunjukkan performa yang stabil dan cenderung positif:
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT): laba bersih meningkat dari Rp 172 miliar (2020) menjadi Rp 368 miliar (2024), dengan net margin terakhir di angka 9,89%.
- PT Indointernet Tbk (EDGE): mencatat pertumbuhan laba dari Rp 121 miliar ke Rp 232 miliar dalam lima tahun, dengan net margin tetap tinggi di kisaran 20-26%.
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI): lonjakan mencolok dari Rp 2 miliar (2020) menjadi Rp 231 miliar (2024), serta margin tinggi di angka 34,41%.
Perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa efisiensi operasional dan fokus bisnis yang jelas menjadi kunci pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor teknologi.
Emiten dengan Kerugian Berkelanjutan
Selanjutnya:
GOTO: Beban Masih Berat Meski Ada Perbaikan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di BEI, namun hingga 2024 masih mencatatkan kerugian signifikan. Pada 2023, GOTO membukukan rugi hingga Rp 90,39 triliun, namun membaik menjadi Rp 5,15 triliun di 2024. Net margin pun membaik dari -611,38% menjadi -32,43%.
BELI dan BUKA: Turun-naik Laba Bersih
PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) mengalami rugi berturut-turut sejak IPO. Dari -Rp 5,5 triliun di 2022, membaik menjadi -Rp 2,53 triliun di 2024, dengan margin -15,14%.
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sempat mencatat laba di 2022, namun kembali rugi pada dua tahun berikutnya.
Emiten Teknologi Kecil yang Menarik Diperhatikan
MSTI dan PTSN: Performa Stabil dan Positif
-
PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI): konsisten mencetak laba sejak 2022, dengan margin di kisaran 9-10%.
-
PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN): margin naik dari 3,33% (2020) menjadi 6,48% (2024), dengan tren pertumbuhan stabil.
Keduanya adalah contoh emiten kecil yang layak dicermati oleh investor karena performa keuangan yang sehat meski tidak besar.
CHIP, AWAN, dan ELIT: Pertumbuhan Bertahap
-
PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) menunjukkan pertumbuhan laba dari Rp 9,3 miliar ke Rp 8,1 miliar dalam 3 tahun.
-
PT Era Digital Media Tbk (AWAN) masih tergolong baru, tetapi mencatat net margin 1,58% pada 2024.
-
PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) stabil di margin sekitar 5% sejak 2020.
Saham Teknologi Penopang IHSG
Satu fakta menarik yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa sektor teknologi menjadi penopang utama IHSG saat pasar sedang tertekan. Berdasarkan laporan IDNFinancials, saham DCII naik hampir 10% dalam sehari dan menyumbang lebih dari 27 poin terhadap pergerakan indeks. Ini membuktikan bahwa meskipun banyak yang masih rugi, sektor teknologi tetap menjadi daya tarik bagi pasar.
Saham Harga Murah dengan Potensi Spekulatif
Di luar nama-nama besar, ada juga saham teknologi yang diperdagangkan dengan harga sangat rendah:
Kode Saham | Harga per Lembar (2024) | Catatan |
---|---|---|
GOTO | Rp 60 | Masih rugi tapi membaik |
KREN | Rp 16 | Rugi 4 tahun berturut-turut |
TOSK | Rp 55 | Laba kecil, margin tipis |
CASH | Rp 90 | Konsisten rugi sejak 2020 |
LUCK | Rp 85 | Rugi kembali di 2024 |
Bagi investor dengan toleransi risiko tinggi, saham-saham ini bisa menjadi spekulasi jangka pendek, namun perlu analisis mendalam sebelum mengambil keputusan.
Penutup
Dari keseluruhan data di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa saham teknologi yang terdaftar di BEI tidak bisa digeneralisasi. Beberapa seperti DCII, WIFI, dan MLPT menunjukkan performa luar biasa dari sisi margin dan pertumbuhan laba. Namun, di sisi lain, raksasa-raksasa seperti GOTO dan BELI masih dalam tahap penyesuaian dan pemulihan.
Bagi investor, penting untuk membedakan antara saham yang sedang dalam masa transisi dengan saham yang memang fundamentalnya kuat. Pendekatan jangka panjang, riset mendalam, dan memahami tren bisnis digital di Indonesia adalah kunci untuk menangkap peluang di sektor ini.
Sumber data:
Data-data dalam artikel ini diambil dan disarikan dari halaman sektor teknologi BEI di situs resmi: https://www.idnfinancials.com/id/company/sector/teknologi-i/3