Antusiasme pasar terhadap Penjatahan IPO Saham SUPA menjadi salah satu topik paling ramai diperbincangkan di pasar modal Indonesia menjelang pencatatan saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) di Bursa Efek Indonesia. Lonjakan jumlah investor, penjatahan yang relatif kecil, serta valuasi yang dinilai murah membuat IPO bank digital ini langsung mencuri perhatian sejak masa penawaran dibuka.
Bukan hanya investor ritel, pelaku pasar institusi juga mencermati debut Superbank yang berada dalam ekosistem besar Grab dan Emtek Group. Kombinasi valuasi konservatif, dukungan ekosistem, dan momentum pertumbuhan sektor perbankan digital menjadikan IPO ini dipandang berbeda dari penawaran saham bank digital sebelumnya.
Gambaran Umum IPO Superbank (SUPA)
PT Super Bank Indonesia Tbk resmi melepas sebagian sahamnya ke publik melalui penawaran umum perdana dengan skala besar. Perseroan menawarkan 4,4 miliar saham, setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp 635 per saham, menghasilkan potensi dana segar sekitar Rp 2,79 triliun. Dana tersebut akan menjadi fondasi penting bagi ekspansi bisnis Superbank dalam beberapa tahun mendatang. Adapun jadwalnya sendiri:
- Masa penawaran umum: 10–15 Desember 2025
- Proses penjatahan: 15 Desember 2025
- Distribusi saham ke investor: 16 Desember 2025
- Pencatatan perdana di BEI: 17 Desember 2025
Rangkaian jadwal ini menandai langkah awal Superbank sebagai emiten bank digital di pasar modal Indonesia.
Penjatahan IPO Saham SUPA: Kenapa Banyak Investor Kecewa?
Topik Penjatahan IPO Saham SUPA menjadi viral setelah banyak investor ritel membagikan pengalaman mereka di berbagai platform komunitas saham. Jumlah saham yang diterima jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pemesanan.
Berdasarkan berbagai laporan investor:
- Pemesanan di bawah Rp100 juta rata-rata hanya memperoleh 3–4 lot
- Pemesanan di atas Rp100 juta mendapatkan alokasi sekitar 0,8% hingga 1,8%
Kondisi ini mencerminkan tingkat oversubscription yang sangat tinggi.
Salah satu faktor utama ketatnya penjatahan adalah lonjakan jumlah Single Investor Identification (SID) yang ikut serta. Antrean IPO SUPA dilaporkan melampaui 1 juta SID, angka yang jarang terjadi untuk sektor perbankan.
Situasi ini mempertegas bahwa minat investor terhadap saham bank digital dengan valuasi rendah masih sangat besar.
Valuasi SUPA Dinilai Murah Dibanding Bank Digital Lain
Di balik minimnya penjatahan, daya tarik utama SUPA terletak pada valuasinya. Pada harga IPO, Price to Book Value (PBV) Superbank berada di kisaran 2,64 kali.
Jika dibandingkan dengan bank digital yang telah lebih dulu tercatat:
- Bank Jago (ARTO)
- Allo Bank Indonesia (BBHI)
- Bank Aladin Syariah (BANK)
Ketiganya diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih tinggi. Posisi SUPA yang masuk pasar dengan valuasi lebih rendah menciptakan ruang apresiasi harga apabila kinerja perusahaan mampu memenuhi ekspektasi.
Mengapa SUPA Disebut Bank Digital Undervalued?
Superbank tidak hanya mengandalkan narasi pertumbuhan, tetapi juga masuk pasar dengan struktur permodalan yang diperkuat melalui IPO. Ada 3 pilar utama daya tarik SUPA, yaitu:
- Valuasi awal konservatif
- Modal kuat untuk ekspansi kredit
- Integrasi ekosistem Grab dan Emtek
Sinergi ini memungkinkan akuisisi nasabah secara lebih agresif dengan biaya yang relatif efisien, terutama dari sisi transaksi digital dan distribusi layanan.
Strategi Penggunaan Dana IPO Superbank
Dana hasil IPO tidak hanya difokuskan untuk ekspansi jangka pendek, tetapi juga pembangunan fondasi jangka panjang.
- 70% dialokasikan untuk memperkuat penyaluran kredit, khususnya segmen ritel dan UMKM
- 30% digunakan untuk belanja modal hingga lima tahun ke depan
Belanja modal tersebut mencakup pengembangan produk, sistem pembayaran digital, infrastruktur teknologi informasi, peningkatan operasional, hingga investasi pada artificial intelligence, analisis data, dan keamanan siber.
Fokus Pasar Setelah Penjatahan IPO Saham SUPA
Setelah proses penjatahan selesai, perhatian investor kini beralih pada tahap eksekusi. Pasar ingin melihat sejauh mana manajemen mampu menerjemahkan dana IPO menjadi pertumbuhan nyata. Tiga Indikator yang Dinantikan Investor
- Pertumbuhan kredit yang berkelanjutan
- Peningkatan jumlah dan kualitas nasabah
- Efisiensi operasional yang tercermin pada kinerja keuangan
Keberhasilan pada tiga aspek ini akan menjadi penentu apakah SUPA layak mendapatkan rerating valuasi.
Momentum Masuk Pasar yang Tepat
Satu poin penting tambahan yang patut dicermati adalah timing IPO SUPA. Superbank melantai saat tren profitabilitas bank digital mulai menunjukkan perbaikan, berbeda dengan periode sebelumnya yang masih didominasi fase bakar modal.
Momentum ini memberi kepercayaan tambahan bahwa SUPA tidak hanya menjual cerita pertumbuhan, tetapi juga kesiapan menuju kinerja yang lebih berkelanjutan.
Potensi Rerating Saham SUPA ke Depan
Pasar kini menunggu apakah SUPA mampu mengejar valuasi bank digital lain yang telah lebih dulu menikmati premi tinggi. Dengan basis valuasi awal yang rendah, ruang kenaikan terbuka lebar jika realisasi kinerja berjalan sesuai rencana.
Jika ekspansi kredit, sinergi ekosistem, dan efisiensi operasional dapat dieksekusi secara konsisten, SUPA berpotensi menjadi salah satu saham bank digital yang menarik baik bagi investor ritel maupun institusi dalam beberapa kuartal mendatang.
Penutup
Fenomena Penjatahan IPO Saham SUPA mencerminkan besarnya minat investor terhadap bank digital dengan valuasi masuk akal dan strategi bisnis yang jelas. Meski banyak investor harus puas dengan alokasi kecil, hal tersebut justru menegaskan kuatnya permintaan pasar.
Dengan modal segar, dukungan ekosistem besar, serta momentum industri yang lebih matang, Superbank kini memasuki fase krusial sebagai emiten publik. Ke depan, keberhasilan SUPA tidak lagi ditentukan oleh euforia IPO, melainkan oleh kemampuan manajemen mengubah potensi menjadi kinerja nyata. Pasar pun akan menjadi saksi apakah SUPA layak menyandang status bank digital undervalued yang berhasil melakukan rerating.
Sumber: investor.id


