Pada hari Senin, 29 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja positif di sesi pertama perdagangan. Dibuka dengan momentum kuat sejak pagi, IHSG berhasil menutup sesi 1 di wilayah hijau dengan kenaikan substansial. Situasi ini menjadi sorotan banyak pelaku pasar karena terjadi di pekan terakhir tahun kalender, disaat sentimen pasar umumnya mulai berhati‑hati menanti tutup buku tahunan.
Fenomena ini bukan hanya refleksi dari angka teknikal semata, tetapi menunjukkan adanya optimisme terhadap fundamental ekonomi domestik dan pergerakan global — sebuah sinyal penting bahwa pasar modal Indonesia tetap menarik meskipun volatilitas tetap mengintai.
Pergerakan IHSG pada Sesi Pertama Perdagangan
Dalam perdagangan sesi pertama, IHSG menguat lebih dari setengah persen, menciptakan momentum positif bagi pelaku pasar yang tengah menutup portofolio pada akhir tahun. Pergerakan ini juga menunjukkan bahwa pasar saham domestik memiliki daya tahan terhadap tekanan eksternal, yang kerap meningkat menjelang akhir tahun kalender.
- IHSG bergerak dalam kisaran 8.546 hingga 8.615, menunjukkan tingkat volatilitas moderat yang tetap berada di atas level penutupan pekan sebelumnya.
- Penutupan sesi pagi tercatat pada 8.612,47, naik tajam dibanding hari Jumat sebelumnya — memperlihatkan optimisme pasar terhadap pergerakan jangka pendek.
Data teknis ini penting karena mencerminkan bagaimana harga bergerak dalam kurun waktu singkat, dan mampu memberikan sinyal untuk strategi trading harian maupun alokasi investasi jangka menengah.
Aktivitas Perdagangan: Volume & Nilai Transaksi
Aktivitas perdagangan IHSG jelang akhir tahun 2025 tidak kalah menarik dari pergerakan indeks itu sendiri. Statistik perdagangan menunjukkan adanya partisipasi investor yang cukup tinggi:
- Nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 13 triliun di sesi pagi saja
- Volume perdagangan mencapai 22,7 miliar saham
- Total transaksi lebih dari 1,7 juta kali
Angka‑angka ini penting karena menunjukkan likuiditas pasar yang tetap hidup bahkan di pekan penutup tahun — sebuah indikator positif bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi salah satu pusat likuiditas di kawasan.
Komposisi Saham Menguat vs Melemah
Terlihat bahwa mayoritas saham di lantai Bursa berakhir di zona hijau:
- 468 saham menguat
- 241 saham melemah
- 249 saham stagnan
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pembelian masih lebih dominan, setidaknya pada sesi perdagangan tersebut.
Sektor‑Sektor yang Mengangkat IHSG
Salah satu hal utama yang mendorong indeks naik adalah performa kuat sejumlah sektor di pasar modal:
Sektor Bahan Baku
Sebagai sektor yang mengalami penguatan terbesar, bahan baku naik hampir 3% — mencerminkan permintaan komoditas yang masih kuat. Kinerja ini sangat dipengaruhi oleh saham‑saham komoditas utama yang menjadi penggerak indeks.
Konsumer Non‑Primer
Kenaikan sektor konsumer non‑primer yang lebih dari 2% memberi gambaran bahwa sektor ritel dan barang konsumsi menengah/tinggi masih menarik perhatian investor, meskipun sentimen liburan akhir tahun sedang berlangsung.
Utilitas
Utilitas juga tampil kuat dengan kenaikan di atas 2%, menandakan bahwa saham‑saham utilitas tetap menjadi pilihan defensif yang menarik di tengah ketidakpastian pasar menjelang akhir tahun.
Kontributor Saham Utama dalam Lonjakan IHSG
Beberapa emiten mencatatkan kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks. Ini menjadi poin penting dalam IHSG jelang akhir tahun 2025, terutama untuk investor saham unggulan:
Amman Mineral (AMMN)
Saham ini mengalami apresiasi sekitar 6% lebih, menjadi salah satu pendorong utama penguatan IHSG di sesi perdagangan pagi. Lonjakan harga saham ini merefleksikan sentimen positif terhadap sektor pertambangan.
Bumi Resources Minerals (BRMS)
BRMS juga ikut menguat lebih dari 6%, berkontribusi pada kenaikan indeks secara keseluruhan. Saham‑saham komoditas seperti ini sering kali mendapatkan perhatian investor di saat permintaan global terhadap mineral dan energi masih tinggi.
Kelompok Saham Prajogo Pangestu
Sejumlah saham yang berafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu juga tampil apik:
- Barito Pacific (BRPT)
- Barito Renewables Energy (BREN)
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)
Ketiga saham ini memberikan sumbangan poin yang cukup besar terhadap IHSG, menunjukkan bahwa saham kapitalisasi menengah‑besar masih menjadi favorit di akhir tahun.
Sinyal Koreksi & Tantangan bagi IHSG
Walaupun banyak saham yang menguat, beberapa saham berkapitalisasi besar seperti DCI Indonesia (DCII) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) sempat mengalami tekanan harga. Namun, kekuatan saham‑saham unggulan berhasil menahan tekanan tersebut, sehingga IHSG tetap bergerak positif.
Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang sehat ada sektor dan saham tertentu yang melemah, namun secara keseluruhan sentimen tetap optimis.
Kalender Ekonomi Domestik & Global
Menjelang akhir tahun 2025, pelaku pasar akan menghadapi sejumlah rilis data penting, baik dari dalam negeri maupun internasional — yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara signifikan.
🇮🇩 Data Ekonomi Indonesia
Investor lokal akan fokus pada:
- Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember
- Data PMI manufaktur Indonesia
Ini adalah indikator penting yang biasanya memengaruhi persepsi terhadap pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Rilis Data Global
Selain itu, beberapa data dan keputusan moneter dari negara maju juga menjadi sorotan:
- Kebijakan suku bunga dan risalah rapat The Fed (FOMC)
- Data inflasi dari Amerika Serikat
- Kebijakan Bank of Japan
- Data ekonomi dan manufaktur dari China
Rilis data‑data ini cenderung memengaruhi aliran modal global, pergerakan dolar AS, dan risiko global — faktor penting yang kemudian berdampak pada indeks saham di seluruh dunia, termasuk IHSG.
Perkiraan Tren Pasar di Pekan Terakhir Tahun 2025
Walaupun hanya tersisa tiga hari perdagangan, volatilitas berpeluang tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh investor yang ingin menutup posisi, mengevaluasi proyeksi awal 2026, serta menyesuaikan portofolio mereka berdasarkan data ekonomi yang akan dirilis.
Para analis pasar menyatakan bahwa periode ini sering kali diwarnai oleh aksi tata kelola portofolio (window dressing), dengan investor institusional mungkin menata ulang saham unggulan mereka sebelum pergantian tahun.
Aksi Korporasi & Sentimen Fundamental
Selain faktor teknikal dan data ekonomi, sentimen fundamental dari aksi korporasi juga menjadi pendorong IHSG. Misalnya, rencana aksi korporasi dari beberapa emiten tertentu — seperti pengumuman program strategis, rencana ekspansi atau kinerja kuartalan yang positif dapat menjadi pemicu kenaikan harga saham secara signifikan.
Aksi korporasi seperti ini sering kali meningkatkan kepercayaan pasar dan menarik minat investor institusi, sehingga memperkuat tren kenaikan dalam jangka pendek.
Penutup
Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan performa yang kuat menjelang akhir tahun 2025. Mayoritas sektor menguat, volume perdagangan tinggi, dan sejumlah saham unggulan memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan indeks. Meskipun volatilitas tetap menjadi risiko, data ekonomi domestik dan global memberikan konteks penting bagi investor untuk merumuskan strategi jangka pendek maupun menengah.
Bagi investor dan trader saham, IHSG jelang akhir tahun 2025 memberikan berbagai sinyal pasar yang harus dicermati secara seksama bukan hanya angka indeks, tetapi juga fundamental makroekonomi, kondisi global, serta aksi strategis perusahaan.
Sumber: CNBC Indonesia


