IHSG Ambruk Hari Ini: Bursa Indonesia Diguncang Trading Halt

IHSG Ambruk Hari Ini

Pasar saham Indonesia kembali diguncang tekanan hebat. IHSG ambruk hari ini dan mencatatkan pelemahan tajam sejak pembukaan perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan langsung terperosok dalam, memicu kepanikan pelaku pasar dan membuat aktivitas transaksi melonjak drastis.

Pada sesi pertama perdagangan Kamis (29/1/2026), IHSG jatuh ratusan poin dan bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Fenomena ini menandai salah satu hari terburuk Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena tekanan terjadi secara merata di hampir seluruh sektor.

Pergerakan IHSG Hari Ini: Tekanan Ekstrem Sejak Pembukaan

IHSG ditutup melemah tajam di sesi I, dengan penurunan hampir menyentuh 6 persen. Dalam perjalanannya, indeks sempat terkoreksi lebih dari 10 persen secara intraday hingga menyentuh level terendah hariannya. Kondisi ini secara otomatis memicu mekanisme pengamanan bursa berupa trading halt selama 30 menit.

Menariknya, kejatuhan indeks diiringi dengan melonjaknya nilai dan volume transaksi. Total nilai perdagangan menembus puluhan triliun rupiah hanya dalam setengah hari. Lonjakan ini mencerminkan tingginya aksi jual panik (panic selling), baik dari investor ritel maupun institusi.

Situasi ini memperkuat sinyal bahwa tekanan pasar bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan reaksi terhadap faktor fundamental dan global yang lebih dalam.



Seluruh Sektor Terseret Turun Tanpa Terkecuali

Dari seluruh sektor, saham-saham energi mencatatkan penurunan paling dalam. Tekanan yang terjadi menunjukkan bahwa pelaku pasar melakukan aksi keluar secara agresif dari saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Selain energi, sektor material dasar, properti, serta konsumer primer juga mengalami koreksi signifikan. Sementara itu, sektor teknologi, infrastruktur, dan konsumer non-primer turut tertekan cukup dalam, menandakan bahwa pelemahan bersifat menyeluruh, bukan sektoral.

Kondisi ini menegaskan bahwa IHSG ambruk hari ini bukan disebabkan oleh satu sektor tertentu, melainkan sentimen pasar secara keseluruhan.

Saham Big Cap Jadi Beban Terbesar IHSG

Penurunan indeks tak lepas dari ambruknya saham-saham berkapitalisasi besar. Beberapa emiten raksasa di sektor energi, perbankan, teknologi, hingga petrokimia mengalami tekanan jual masif.

Saham-saham seperti BBCA, BREN, DCII, DSSA, PTRO, TPIA, BYAN, dan PANI menjadi kontributor utama pelemahan indeks. Karena bobotnya besar dalam perhitungan IHSG, koreksi tajam pada saham-saham ini langsung berdampak signifikan terhadap pergerakan indeks.

Investor Asing Kembali Melepas Saham dalam Jumlah Besar

Tekanan di pasar saham Indonesia juga diperparah oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai triliunan rupiah dalam dua hari terakhir. Saham perbankan besar menjadi sasaran utama pelepasan dana, mencerminkan sikap defensif investor global terhadap pasar domestik.

Arus keluar dana asing ini menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat kejatuhan IHSG dan memperlemah kepercayaan jangka pendek pasar.



MSCI Jadi Pemicu Utama Guncangan Pasar

Salah satu katalis terkuat di balik kejatuhan ini adalah keputusan MSCI yang menangguhkan perhitungan saham Indonesia dalam indeks globalnya. Keputusan tersebut langsung memicu rebalancing portofolio besar-besaran oleh investor institusional global.

Karena MSCI digunakan sebagai acuan utama oleh banyak manajer investasi internasional, perubahan ini berdampak signifikan terhadap aliran dana, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Di Tengah Badai, Beberapa Saham Justru Melonjak

Meski mayoritas saham berada di zona merah, sejumlah emiten justru mencatatkan lonjakan harga signifikan, bahkan menyentuh batas auto reject atas (ARA). Saham-saham ini umumnya berasal dari lapis kedua dan ketiga, dengan karakter volatilitas tinggi.

Kenaikan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa peluang tetap muncul di tengah tekanan pasar, meskipun risikonya juga jauh lebih besar.

Volatilitas Pasar Capai Level Ekstrem

Salah satu hal krusial dari peristiwa IHSG ambruk hari ini adalah melonjaknya volatilitas pasar ke level ekstrem. Indikator fluktuasi harga menunjukkan pergerakan harian yang jauh di atas rata-rata normal, menandakan ketidakpastian tinggi dan dominasi sentimen jangka pendek.

Kondisi ini biasanya membuat pasar menjadi sangat sensitif terhadap berita, rumor, maupun pernyataan otoritas, sehingga pergerakan harga bisa berubah drastis dalam waktu singkat.

Apa Artinya Bagi Investor?

Bagi investor jangka pendek, situasi ini penuh risiko dan membutuhkan disiplin ketat dalam manajemen modal. Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi tajam seperti ini sering kali menjadi fase evaluasi ulang terhadap fundamental dan valuasi saham.

Namun, penting untuk dicatat bahwa tekanan akibat faktor global dan kebijakan indeks biasanya bersifat sementara, meskipun dampaknya bisa sangat agresif dalam jangka pendek.



Penutup

IHSG ambruk hari ini menjadi pengingat bahwa pasar modal tidak selalu bergerak linier. Kombinasi sentimen global, keputusan indeks internasional, dan aksi jual investor besar dapat menciptakan tekanan luar biasa dalam waktu singkat.

Meski situasi terlihat suram, sejarah menunjukkan bahwa pasar selalu melalui fase siklus. Ketika kepanikan mereda dan kepastian mulai terbentuk, peluang baru sering kali muncul bagi investor yang siap dan rasional. Kunci utamanya adalah tetap tenang, memahami konteks, dan tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.


Sumber: Kontan.co.id