Pasar modal kembali dikejutkan oleh aksi korporasi berskala jumbo. Kali ini, perhatian investor tertuju pada langkah Treasure Global Investments Limited yang resmi melepas sebagian besar kepemilikannya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Transaksi bernilai triliunan rupiah tersebut bukan hanya mengubah struktur pemegang saham, tetapi juga memunculkan berbagai spekulasi terkait arah strategi jangka panjang emiten tambang batu bara tersebut.
Aksi ini terjadi di tengah dinamika pasar saham yang masih sensitif terhadap pergerakan investor besar, terutama asing. Tidak heran, kabar Treasure Global jual saham BUMI langsung menjadi sorotan pelaku pasar dan analis.
Kronologi Penjualan Saham BUMI oleh Treasure Global
Treasure Global secara resmi melaporkan telah melakukan penjualan saham BUMI dalam jumlah sangat signifikan. Langkah ini menyebabkan porsi kepemilikannya turun tajam hanya dalam satu transaksi besar.
Dalam keterbukaan informasi, Treasure Global melepas sebanyak 18,195 miliar saham biasa BUMI. Angka ini terbilang masif karena mewakili sebagian besar portofolio saham yang sebelumnya mereka kuasai.
Sebelum transaksi:
- Kepemilikan mencapai 30 miliar saham
- Setara dengan 8,08% dari total saham beredar
Setelah transaksi:
- Kepemilikan tersisa 11,805 miliar saham
- Porsinya turun menjadi 3,18%
Penurunan ini menandai perubahan posisi Treasure Global dari pemegang saham signifikan menjadi pemilik minoritas.
Nilai Transaksi Tembus Rp 6,9 Triliun
Dari sisi nilai, transaksi ini tergolong salah satu yang terbesar di awal tahun 2026.
- Harga transaksi ditetapkan di Rp 380 per saham
- Total nilai penjualan mencapai sekitar Rp 6,91 triliun
Harga tersebut sesuai dengan transaksi yang terjadi di pasar negosiasi, bukan melalui perdagangan reguler. Hal ini mengindikasikan adanya kesepakatan khusus antara pihak penjual dan pembeli.
Dilakukan di Pasar Negosiasi BEI
Transaksi penjualan saham BUMI oleh Treasure Global tidak dilakukan di pasar reguler Bursa Efek Indonesia, melainkan melalui mekanisme khusus.
Penjualan saham terjadi pada:
- 19 Januari 2026
- Menggunakan pasar negosiasi BEI
- Volume transaksi sekitar 182 juta lot saham
Berdasarkan data broker summary, proses crossing difasilitasi oleh Ina Sekuritas, perusahaan sekuritas yang diketahui terafiliasi dengan Grup Salim.
Skema crossing ini memungkinkan transaksi besar dilakukan tanpa mengganggu harga pasar secara langsung.
Restrukturisasi Pemegang Saham Bumi
Dalam penjelasan resminya, Treasure Global menyebut bahwa tujuan penjualan saham ini adalah untuk shareholder restructuring.
Restrukturisasi pemegang saham umumnya dilakukan untuk:
- Penataan ulang kepemilikan internal
- Penyesuaian strategi investasi jangka panjang
- Optimalisasi struktur kontrol perusahaan
Meski tidak dijelaskan secara rinci, istilah ini sering digunakan ketika terjadi konsolidasi kepemilikan di level grup usaha atau pengalihan peran antar entitas afiliasi.
Struktur Pemilik Treasure Global
Untuk memahami konteks transaksi, penting melihat siapa saja pihak yang berada di balik Treasure Global Investments Limited.
Berdasarkan arsip pemberitaan sebelumnya, struktur kepemilikan Treasure Global terdiri dari:
- Mach Energy (Singapore) Pte Ltd sebesar 83,85%, dikendalikan oleh Anthoni Salim
- PT Aswana Pinasthika Investasi sebesar 16,15%, berada di bawah kendali Agoes Projosasmito
Keterkaitan dengan Grup Salim menjadi faktor penting yang kerap diperhatikan investor, terutama ketika transaksi melibatkan nilai besar dan mekanisme negosiasi tertutup.
Asing Terus Melepas Saham BUMI
Aksi Treasure Global ini sejalan dengan tren yang lebih luas, yaitu berlanjutnya penjualan saham BUMI oleh investor asing.
Dalam beberapa waktu terakhir, saham BUMI kerap menjadi sasaran aksi jual asing. Faktor yang memengaruhi antara lain:
- Fluktuasi harga batu bara global
- Dinamika regulasi sektor tambang
- Rotasi aset ke sektor lain yang dianggap lebih defensif
Meski demikian, adanya transaksi besar di pasar negosiasi menunjukkan bahwa saham BUMI masih memiliki peminat kuat di kalangan investor institusi tertentu.
Dampak terhadap Struktur Kepemilikan BUMI
Penurunan porsi Treasure Global membawa konsekuensi langsung pada peta kepemilikan saham BUMI.
Dengan berkurangnya kepemilikan Treasure Global:
- Pengaruh suara dalam RUPS ikut menurun
- Struktur pengendalian menjadi lebih terdistribusi
- Potensi masuknya investor baru semakin terbuka
Hal ini bisa menjadi titik awal perubahan strategi atau kebijakan perusahaan ke depan, tergantung siapa pihak yang menyerap saham tersebut.
Potensi Peningkatan Free Float Saham BUMI
Satu poin penting yang patut diperhatikan dari transaksi ini adalah peluang meningkatnya free float saham BUMI.
Jika saham yang dilepas akhirnya tersebar ke lebih banyak investor:
- Likuiditas saham berpotensi meningkat
- Pergerakan harga bisa menjadi lebih sehat
- Daya tarik bagi investor ritel dan institusi bertambah
Peningkatan free float sering kali menjadi katalis positif jangka menengah, terutama bagi saham yang sebelumnya didominasi pemegang besar.
Bagaimana Investor Menyikapi Aksi Ini?
Bagi investor, kabar Treasure Global jual saham BUMI tidak bisa dilihat secara hitam-putih.
- Jangka pendek: pasar bisa bereaksi hati-hati karena adanya aksi jual besar
- Jangka menengah: struktur kepemilikan yang lebih fleksibel bisa membuka peluang baru
- Jangka panjang: fundamental BUMI tetap menjadi faktor penentu utama
Investor disarankan untuk tidak hanya fokus pada siapa yang menjual, tetapi juga siapa yang berpotensi menjadi pemilik baru saham tersebut.
Penutup
Aksi Treasure Global jual saham BUMI senilai Rp 6,9 triliun menjadi salah satu peristiwa penting di pasar modal Indonesia pada awal 2026. Penurunan kepemilikan dari 8,08% menjadi 3,18% menandai perubahan besar dalam struktur pemegang saham BUMI, sekaligus membuka berbagai spekulasi terkait konsolidasi dan strategi lanjutan.
Meski dilakukan dengan alasan restrukturisasi pemegang saham, transaksi ini tetap membawa implikasi luas, mulai dari sentimen pasar hingga potensi peningkatan free float saham. Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada siapa pihak yang menyerap saham tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap arah bisnis BUMI secara keseluruhan.
Sumber: investor.id


